Seputarkuningan.com – Setiap peringatan Hari Buruh, perhatian publik biasanya tertuju pada tuntutan kenaikan upah, jaminan sosial, dan kondisi kerja yang lebih layak. Jalanan dipenuhi aksi, spanduk, dan suara lantang para pekerja. Namun, ada satu kelompok yang hampir selalu hadir di tengah hiruk-pikuk itu—tanpa banyak disorot sebagai bagian dari perjuangan itu sendiri: jurnalis.
Jurnalis sering diposisikan sebagai pengamat, penyampai pesan, dan penghubung antara peristiwa dengan publik. Mereka meliput aksi buruh, mewawancarai narasumber, dan menuliskan realitas yang terjadi di lapangan. Tapi ironisnya, banyak jurnalis juga menghadapi persoalan yang tak jauh berbeda dengan buruh yang mereka liput.
Di balik layar, tidak sedikit jurnalis yang bekerja dengan jam kerja panjang, tekanan tinggi, dan upah yang belum sepenuhnya layak. Status kerja yang tidak pasti, minimnya perlindungan, hingga tuntutan produktivitas yang terus meningkat menjadi tantangan nyata di dunia jurnalistik. Dalam konteks ini, jurnalis bukan hanya penyampai cerita buruh—mereka juga bagian dari cerita itu.
Hari Buruh seharusnya menjadi momentum refleksi yang lebih luas, termasuk bagi industri media. Apakah perusahaan pers sudah memberikan kesejahteraan yang adil bagi pekerjanya? Apakah kebebasan pers juga diiringi dengan perlindungan terhadap jurnalis sebagai pekerja?
Lebih jauh lagi, jurnalis memegang peran penting dalam membentuk persepsi publik terhadap isu perburuhan. Cara mereka menulis, memilih sudut pandang, dan menghadirkan narasi sangat mempengaruhi bagaimana masyarakat memahami perjuangan buruh. Karena itu, independensi dan keberpihakan pada kebenaran menjadi hal yang mutlak.
Namun, keberpihakan bukan berarti kehilangan objektivitas. Justru jurnalisme yang kuat adalah yang mampu menghadirkan realitas secara utuh—termasuk suara-suara yang selama ini terpinggirkan.
Pada akhirnya, Hari Buruh bukan hanya milik mereka yang turun ke jalan, tetapi juga milik semua pekerja, termasuk jurnalis. Sudah saatnya profesi ini tidak hanya dilihat sebagai “penonton” perjuangan, tetapi juga diakui sebagai bagian dari ekosistem pekerja yang layak mendapatkan keadilan dan kesejahteraan.
Karena tanpa jurnalis, banyak suara buruh mungkin tak pernah terdengar. Dan tanpa kesejahteraan jurnalis, suara itu bisa kehilangan kekuatannya.
Opini, oleh : Elly Said Karta
