Seputarkuningan.com – Dipusatkan di depan Pendopo Kabupaten Kuningan, kegiatan berlangsung meriah. Masyarakat antusias menyaksikan perpaduan tradisi keprajuritan, seni pertunjukan, serta prosesi budaya yang sarat nilai kebersamaan.
Tahun ini, Seba Sapton dan Babarit mengusung tema “Ajeg Purbawisesa”. Prosesi diawali dengan Kirab Keprajuritan “Nganjang Ka Pendopo Raja” yang melibatkan para camat sebagai Demang bersama kontingen dari lima Kademangan.
Sekretaris Disporapar Kabupaten Kuningan Ritto Riswanto, SE.Par., M.Par., mengatakan setiap Kademangan membawa persembahan berupa hasil Seba yang dipadukan dengan atraksi keprajuritan dan kesenian khas daerah.
“Setelah penyerahan hasil Seba, Kanjeng Raja akan memberikan amanat. Selanjutnya dilaksanakan prosesi Nawur Asih oleh Kanjeng Patih berupa pembagian hasil Seba, tumpeng, dan gunungan sayur kepada masyarakat,” kata Ritto dalam keterangan persnya, Sabtu (6/9/2026).
Lima Kademangan yang tampil yakni Jaya Giri, Mandala Jaya, Bratasana Jaya, Raksakancana Jaya, dan Suradipati Jaya. Masing-masing menampilkan ragam seni dan tradisi keprajuritan seperti panah, pedang-tameng, tombak, gada, hingga Kujang.
Rangkaian dilanjutkan dengan prosesi Babarit pada sore hari. Setelah berbagai pertunjukan budaya, kegiatan ditutup dengan Murak Tumpeng atau makan bersama sebagai ungkapan syukur dan ngala berkah.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., mengatakan Seba Sapton dan Babarit merupakan bagian penting dalam menjaga tradisi leluhur agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Tahun kemarin memang kita tidak selenggarakan karena situasi kondisi yang tidak memungkinkan,” ujar Dian.
Menurutnya, pelaksanaan tahun ini terasa berbeda karena prosesi Sapton dipindahkan dari Lapang Cijoho ke Jalan Siliwangi. Lokasi tersebut membuat masyarakat bisa menyaksikan prosesi secara lebih dekat.
“Kalau dulu dinikmati oleh para peserta saja di Lapang Cijoho, sekarang kita pindahkan di Jalan Siliwangi. Ternyata mendapat antusiasme yang cukup bagus dari para penonton dan masyarakat,” katanya.
Dian menilai tingginya antusiasme warga menjadi bukti bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat di tengah masyarakat.
“Ini artinya tradisi leluhur dari waktu ke waktu terus kita pertahankan. Menghormati tradisi dan merawat tradisi ini juga sepertinya merawat masa depan,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Dengan perayaan ini kita semakin memperkuat tali silaturahmi, guyub, kompak, bersama-sama kita membangun Kuningan ke depan,” katanya.
Salah satu warga, Oom (60), asal Desa Sagahariang, Kecamatan Darma, datang bersama cucunya untuk menyaksikan langsung helaran tersebut.
“Setiap tahun saya selalu menyaksikan. Tapi tahun ini terasa berbeda, lebih seru dan meriah. Saya sengaja datang bersama cucu untuk melihat langsung,” tuturnya.
Rangkaian Hari Jadi ke-528 Kuningan masih akan berlanjut. Di antaranya Melesat Run pada Minggu (6/9/2026) dan Karnaval Budaya “Kuningan dari Masa ke Masa” pada 13 September 2026. Pemerintah daerah juga menjadwalkan Bupati Saba Lembur di Subang dan Mandirancan. (Elly Said)

